Wanita Harus Waspada Dengan Menikah Sirih

Akankah Pernikahan Sirih Juga Yang Terbaik?

Pernikahan siri dilakukan di hadapan ustaz atau ulama, namun pernikahan ini tidak dicatat pegawai Kantor Urusan Agama (KUA). perkawinan tersebut sah, namun secara hukum, perkawinan ini tidak diakui resmi oleh negara. Dengan demikian, hak Anda sebagai istri lemah secara hukum, apalagi jika status calon suami yang masih terikat perkawinan.

Adapun resiko yang di tanggung saat menikah siri:

1. Anda bisa sepenuhnya  melihat, hak nafkah dan penghidupan untuk anak Anda kelak. Dan bisa jadi juga dampaknya adalah  dilakukan karena kedua belah pihak belum siap lahir bathin, resiko ditinggal begitu saja oleh sang laki-laki buaya bisa saja terjadi, memang secara agama itu sah dan diperbolehkan, tapi secara hukum tidak kuat adanya.

2. Seandainya terjadi perpisahan, Anda tidak berhak atas tunjangan nafkah sebagai mantan istri dan harta gono gini. Dikarenakan pernikahan ini bukan pernikahan yang sah.

3. Seandainya pasangan meninggal dunia, Anda tidak berhak mendapatkan warisan, begitu juga anak Anda. Karena, anak yang dilahirkan dari pernikahan siri hanya mempunyai hubungan hukum dengan ibunya. Memang pernikahan ini di sah kan oleh ustatz atau ulama,tetapi tidak masuk dalam Kantor Urusan Agama(KUA).

4. Anda pun dapat dikenakan pidana. Istri sah dari kekasih Anda bisa saja melaporkan Anda dan suaminya telah melakukan tindak pidana kejahatan dalam perkawinan (pasal 279 (1) KUHP) atau tindak pidana perzinaan (pasal 284 ayat (1).

Menikah sirih itu dilihat dari sisi manapun merugikan perempuan. Tak ada legal formal yang mengatur hak dan kewajiban, apalagi bila sudah memiliki anak. Hal lain adalah bagaimana bila si istri sah mencium pernikahan siri ini, kemudian terjadi chaos yang berujung pada sebuah tindak kekerasan.  Melakukan pernikahan siri rasanya jauh dari pikiranku. Relasi yang bebas tapi mengikat secara esensi dan emosional untukku rasanya lebih berarti daripada sekedar sebuah status. Padahal rasanya bagi sahabatku kemungkinan untuk menikah secara resmi dan hidup ‘normal’ dengan kekasihnya itu cukup besar. Logikanya lebih mudah untuk lepas dan kemudian menikah resmi dengan sahabatku tentunya. Jauh berbeda dengan kekasihku yang telah menikah sekian lama dengan dua anak yang beranjak remaja, kemungkinan untuk lepas itu sama sekali gelap dan buntu. Saat inipun si istri benar-benar melakukan pengawasan super ketat atas gerak suaminya, karena rupanya pernah ada insiden kecil dimana si istri mencium ketidaksetiaan suaminya.  Makin ketat pengawasan rupanya makin menantang bagi dua manusia dewasa yang terpikat oleh jerat cinta ini. Makin menciptakan ide-ide kreatif untuk bisa bersama di sela-sela jadwal yang ketat dan pengawasan melekat.