Waspadai Sakit Gigi Saat Hamil

Sakit gigi saat hamil bikin bayi lahir prematur.

Tidak bisa dipungkiri bahwa saat hamil perempuan cenderung malas melakukan banyak aktivitas. Mereka terlalu fokus pada janin sehingga melupakan perawatan dirinya sehingga akhirnya bisa berpengaruh pada tubuh dan si jabang bayi. Jika ibu hamil tidak rajin memelihara kesehatan giginya, maka bayi dalam kandungan pun bisa tertular sejumlah penyakit dan bahkan bisa terbawa hingga sang bayi lahir. Ibu hamil terkadang malas membersihkan gigi dan mulut karena merasa mual. Padahal, ini harus dipaksakan.

Beberapa problem seperti gigi berlubang, gusi bengkak, gusi berdarah, dan nyeri gigi kerap kali dialami oleh mereka yang hamil. Umumnya terjadi pada trimester pertama. Sebab, saat itu ibu hamil sedang mengalami mual dan muntah atau morning sickness, yang kemudian membuat mereka malas merawat gigi. Karena sedang mual dan muntah, ditambah senang mengonsumsi makanan yang asam atau yang manis untuk mengurangi mual dan muntah, maka problem gigi makin bertumpuk. Karena makanan yang manis bisa menyebabkan pH mulut jadi asam. Padahal, semakin malas menyikat dan membersihkan gigi, semakin besar ancaman bagi si jabang bayi. Karena si ibu kehilangan nafsu makan, asupan makanan bagi jabang bayi pun berkurang. Contohnya Di Amerika pada tahun 2002, lebih dari 18% bayi lahir prematur dan berat badan di bawah normal yang kemungkinan akibat penyakit periodontal selama kehamilan, dan menghabiskan 5,5 trilyun US Dollars untuk perawatan bayi tersebut di rumah sakit. Lain halnya lagi di indonesia belum ada data resmi mengenai hal ini, kecuali mendapatkan asumsi dari data2 yang ada.

Dokter gigi menyarankan agar ibu hamil tetap rajin menggosok gigi setiap selesai makan dan sebelum tidur. ”Gunakan pasta gigi berflouride untuk menjaga kekuatan gigi. Anda juga bisa berkumur dengan obat kumur antiseptik dan dibarengi mengunyah permen yang mengandung xylitol untuk membunuh kuman. Selain itu, bila ada masalah pada gigi, misalnya gigi berlubang, harus segera ditambal. Gigi yang berlubang bisa ditularkan pada bayi, hingga kelak anak mengalami problem gigi yang sama. Tiga bulan pertama masa kehamilan adalah yang paling penting untuk menjaga kesehatan gigi dan gusi. Perhatikan betul kebersihan gigi pada usia kehamilan 14-20 minggu. Inilah saat paling rawan jika Anda mengabaikan kesehatan gigi. Jangan menunda merawat gigi hingga masa morning sickness lewat.

Kenapa ibu hamil sering mengalami masalah dengan giginya?

Ibu hamil yang sakit gigi sebenarnya bukan hal baru dari beberapa penelitian di jurnal ilmiah kedokteran gigi. Keadaan rongga mulut ibu sebelum hamil dapat mempengaruhi kondisi bayi yang dikandungnya. Jika ibu hamil yang memiliki gigi yang berlubang, karang gigi, dan sisa akar gigi di mulutnya kemudian tidak di rawat. Nah pada saat ibu tersebut hamil, tubuhnya tentu akan memberikan respon pertahanan akan kehamilannya dan tentu juga akan memberikan respon pertahan terhadap kondisi rongga mulutnya yang tidak beres tadi. Fakta menunjukkan akibat penyakit rongga mulut yang tidak beres selama kehamilan tadi akan berkonsukwensi terhadap kelahiran prematur.

Usaha pencegahan atau preventif bisa dilakukan lebih awal sebenarnya, jika sudah memiliki rencana untuk hamil, maka perawatan gigi sebaiknya segera dilakukan, gigi yang berlubang ditambal, gigi yang sudah goyang atau sisa akar di cabut, dan dilakukan pembersihan karang gigi. Kesehatan gigi anaknya kelak, juga tentu tercermin dari kesehatan gigi ibunya disaat hamil.

Bayi prematur memang lebih rentan pada gangguan kesehatan

Penelitian menunjukkan, bayi prematur memiliki risiko lebih besar menderita autisme saat ia tumbuh besar. Usia harapan hidup bayi prematur memang lebih tinggi. Namun, anak yang lahir kurang bulan memang sering mengalami keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan. Makin kecil usia kehamilan dan makin kecil berat lahir, makin tinggi risiko terjadinya gangguan tumbuh kembang. Dalam studi terhadap 219 anak yang lahir sebelum usia kehamilan 26 minggu, sekitar 8 % dari anak-anak itu memenuhi kriteria gangguan spektrum autisme pada usia 11 tahun. Bandingkan dengan 153 anak yang lahir cukup bulan yang semuanya normal.

Angka autisme pada penelitian tersebut termasuk tinggi dibandingkan dengan seluruh populasi di mana para ahli memperkirakan ada 1 kasus autisme pada 1.000 anak. Gangguan spektrum autisme merupakan gangguan perkembangan yang mengakibatkan anak mengalami kelambatan dan penyimpangan dari pola perilaku normal pada hubungan sosial dan interaksi, bahasa dan komunikasi, serta kegiatan dan minat. Kondisi kelambatan tumbuh kembang tersebut sangat bervariasi, dari yang berat sampai yang ringan  di mana anak memiliki intelegensi normal dan kemampuan komunikasi yang baik.