Stroke Sudah Jadi Penyakit Anak Muda

Penyakit Stroke Kini Lebih Didominasi Oleh Kaum Muda.

Stroke yang biasa dikenal sebagai penyakit orangtua kini sudah menjadi penyakit anak muda. Riset menunjukkan bahwa penyakit stroke kini lebih didominasi oleh kaum muda daripada kaum tua. Kabar baik bagi orangtua, tapi tidak bagi yang masih ingin punya umur panjanObesitas dan hipertensi  adalah dua penyebab yang paling disalahkan. Jika dahulu stroke banyak diderita orangtua, kini orang muda yang berisiko paling tinggi menderita penyakit yang menyebabkan pendarahan di otak dan kelumpuhan organ ini.

Menurut hasil studi, selama 3 tahun ke belakang, kecenderungan penderita stroke berusia 60 atau 70-an tahun menurun sedangkan penderita stroke berusia 20 hingga 45-an tahun meningkat. Stroke harusnya tidak menjadi penyakit kaum muda karena penyakit ini berkembang cukup lama sebelum menyerang seseorang. Penyakit ini adalah hasil dari ada yang kita lakukan di masa lalu. Jika kaum muda sekarang sudah kena stroke, artinya kebiasaan sejak kecilnya sudah tidak benar.

Fenomena peningkatan kasus stroke pada kaum muda dan faktor penyebabnya pun diakui oleh Brian Silver dari the American Stroke Association. Obesitas akan meningkatkan kerja jantung, memicu hipertensi, menyebabkan resistensi hormon insulin dan akhirnya diabetes. Semua faktor itu sudah pasti menyebabkan stroke. Stroke kecil saja di otak bisa menyebabkan gangguan ingatan dan masalah lainnya. Untuk mengurangi risiko stroke, seseorang perlu mengontrol tekanan serta gula darah agar tetap normal, dan tentunya yang paling penting adalah olahraga rutin. Pusat-pusat pelayanan stroke pun perlu diperbanyak agar penderita stroke tetap bisa mendapat konsultasi untuk penyembuhannya.

Suami Lebih Berisiko Kena Stres Daripada Istri.

Suami lebih berisiko kena stres daripada istri ketika harus mengurus pasangannya yang sakit atau tidak mampu. Ini karena suami tidak siap dan tidak terbiasa merawat seseorang. Pasangan yang paling stres berisiko mengalami stroke paling tinggi. Partisipan ditanya berapa lama dalam seminggu mereka merasa depresi, sedih atau menangisi keadaan. Faktor lain seperti usia, tekanan darah tinggi, kolesterol, kebiasaan merokok atau penyakit diabetes telah diperhitungkan dalam studi ini.

Hasilnya menunjukkan, suami lebih cepat stres dan lebih tinggi 23 % kena stres dibanding istri. Stres tersebut berisiko 26,9% menjadi stroke selama 10 tahun. Perempuan lebih siap dan terbiasa merawat seseorang dibanding laki-laki, jadi lebih sedikit yang kena stres. Risiko stres yang dialami suami lama kelamaan bisa berkembang menjadi stroke, umumnya 2 tahun setelah mengalami stres. Hal ini didukung oleh peneliti Swedia yang mengatakan, hanya tiga perempat penderita stroke yang tetap minum obat untuk mencegah stroke baru.

Sebanyak 26 persen berhenti mengonsumsi obat darah tinggi, 44%berhenti mengonsumsi statin dan 36 % berhenti dari pengobatan jantung. Banyak pasien yang merasa tidak perlu obat lagi karena merasa sudah agak baikan atau sembuh. Tapi dokter juga harus disalahkan karena tidak memaksa atau memberi edukasi pasien tentang pentingnya minum obat rutin dan terus menerus hingga benar-benar sembuh.

Penyebab Penyakit Stroke.

Banyak kondisi-kondisi yang dapat menyebabkan stroke, tetapi awalnya adalah dari pengerasan arteri atau yang disebut juga sebagai arteriosklerosis. Jangan berpikir bahwa penyumbatan pembuluh darah itu terjadi sebagai proses penuaan yang wajar. karena arteriosklerosis merupakan akibat dari gaya hidup modern yang penuh stres, pola makan tinggi lemak, dan kurang berolahraga. Ketiganya sebenarnya tergolong dalam faktor risiko yang dapat dikendalikan.

Faktor Risiko Tak Terkendali.

– Usia

Jenis kelamin

Keturunan-sejarah stroke dalam keluarga

Faktor Risiko Terkendali.

Hipertensi

Penyakit jantung

Diabetes

Kadar kolesterol darah

Merokok

Alkohol berlebihan

– Obat-obatan terlarang

Cedera kepala dan leher

Infeksi