Penatalaksanaan Kista Bartolini

Kista BartoliniPenatalaksanaan kista Bartolini tergantung pada beberapa faktor seperti gejala klinik (nyeri atau tidak), ukuran kista, dan terinfeksi tidaknya kista. Kista Bartolini yang asimtomatik pada penderita dibawah usia 40 tahun tidak membutuhkan pengobatan. Pada beberapa kasus, kista kecil hanya perlu diamati beberapa waktu untuk melihat ada tidaknya pembesaran.

Jika kistanya kecil dan tenang pada wanita hamil dibiarkan saja dan baru diangkat kira-kira 3 bulan setelah persalinan. Apabila kista sering meradang walaupun sudah diobati berulang kali, atau apabila kista sangat besar sehingga dikhawatirkan akan pecah waktu persalinan, maka sebaiknya kista itu diangkat dalam keadaan tenang, sebelum lahir. Ada kalanya kista yang sangat besar diketahui sewaktu penderita dalam persalinan. Dalam hal demikian dilakukan punksi dan cairan dikeluarkan, lalu dilakukan Marsupialisasi. Pada kasus lain, dapat dilakukan word catheter. Untuk kista Bartolini yang kecil dan tidak terlalu nyeri, dapat dilakukan  terapi berupa sitz bath dengan mengamati adanya pembesaran kista atau nyeri. Jika terjadi ruptur spontan dari kista Bartolini maka dibutuhkan warm sitz bath dan tidak diperlukan analgetik.

Jika kista terinfeksi menjadi abses, diperlukan obat-obatan baik topikal maupun anestesi lokal. Untuk infeksi lokal, yang sering digunakan adalah antibiotik topikal seperti mupirocin. Antibiotik yang biasanya digunakan untuk terapi penyakit menular seksual yang disebabkan oleh Neisseria gonorrhea seperti ceftriaxone (Rocephin) 125 mg IM dosis tunggal untuk orang dewasa sedang untuk bayi dan anak-anak 50 – 75mg/KgBB IV, ciprofloxacin (Cipro) 250 mg peroral, doxycycline (Bio- tab, Doryx, Vibramycin) 100 mg peroral, azithromycin (Zithromax) 1 gr peroral. Sedangkan golongan anestesi digunakan topical pada mukosa vagina dan secara injeksi pada submukosa yaitu lidokain (dilokain) topikal 3-5 mg/kgBB, injeksi 3 – 5 mg/kgBB dalam submukosa disekeliling kista, bupivakain (markain, sensorkain) dengan dosis maksimal 225 mg dengan epinefrin, 175 mg tanpa epenefrin diinjeksikan ke dalam submukosa disekeliling kista dan triamcinolone-acetonide 5 mg/i.c. injeksi untuk mengurangi inflamasi pada kista secara cepat dan mudah. Antibiotik biasanya diberikan segera setelah insisi dan drainase dilakukan.

1. Sitz Bath.

Sitz Bath merupakan perawatan terhadap kista Bartolini dan abses Bartolini secara sederhana yang dapat dilakukan dirumah. Caranya yaitu, dengan duduk di dalam bak mandi (bathtub) yang diisi dengan beberapa inci air hangat dimana bokong dan daerah genital harus terendam air dengan tujuan untuk mengurangi nyeri dan membantu proses penyembuhan. Hal ini dilakukan selama 10 hingga 15 menit, 3 —4 kali dalam sehari.

2. Word catheter.

Teknik ini pertama kali diperkenalkan pada tahun 1952, lalu dimodifikasi pada tahun 1964. Awalnya dilakukan anestesi local pada daerah sekitar abses atau kista. Zat anestesi yang biasa digunakan adalah lidokain 3-5 mg/KgBB atau bupivakain 175 mg (dalam epinefrin), diinjeksikan pada submukosa sekeliling kista. Dinding kista atau abses ditarik dengan menggunakan forcep kecil, lalu dilakukan insisi (stab incision) sedalam 1 — 1,5 cm dengan menggunakan scalpel no.11. Penting untuk menarik dinding kista sebelum insisi dilakukan, jika tidak demikian maka kemungkinan dapat mengakibatkan kolaps kista. Insisi tidak boleh dilakukan diluar labium karena dapat terbentuk fistel yang permanen.

Word catheter merupakan kateter kecil yang terbuat dari karet dengan balon pada ujungnya, kateter ini dimasukkan ke dalam luka insisi setelah dilakukan drainase cairan kista. Sebelum dimasukkan, ujung kateter diolesi dengan gel untuk membantu lubrikasi atau dengan air. Jika insisi terlalu lebar, Word catheter akan terjatuh. Setelah dimasukkan melalui kateter lalu diinjeksikan 2 — 3 ml cairan salin untuk mengembangkan balon. Balon yang terisi salin akan mengembang dan akan menahan kateter tetap di dalam kavitas kista atau abses. Sementara ujung kateter yang lain ditempatkan di dalam vagina. Agar terjadi epitelisasi pada daerah insisi, Word catheter dipasang selama 4 – 6 minggu, hal ini juga bertujuan untuk memperkecil rekurensi. Sitz bath 2- 3 kali sehari dapat membantu dalam proses penyembuhan.

3. Marsupialisasi

Marsupialisasi dilakukan jika kista rekuren setelah terapi dengan Word catheter atau jika dokter memilih marsupialisasi sebagai terapi pilihan pertama. Prosedur dapat dilakukan jika terdapat abses. Setelah sterilisasi kista dan daerah sekitarnya, diikuti dengan anestesi lokal, kista ditarik dengan forceps kecil, lalu dengan menggunakan scalpel no.11 dibuat inisisi secara vertikal ditengah kista, diluar cincin hymen. Lebar insisi sekitar 1,5 – 3 cm, tergantung ukuran kista, dan harus cukup dalam agar mencakup vestibular dan dinding kista bagian dalam. Setelah insisi, cairan dalam kista atau abses akan keluar secara spontan Dinding kista kemudian dijahit ke mukosa vestibulum dengan menggunakan jarum kecil dan benang dari bahan yang dapat diabsorbsi. Sitz bath sebaiknya mulai dilakukan pada hari pertama post operasi. Sekitar 5 – 15% kasus kista Bartolini yang rekuren terjadi setelah marsupialisasi. Adapun komplikasi dari prosedur semacam ini berupa dispareunia, hematom dan infeksi. Metode ini tidak dapat dilakukan jika terjadi abses Bartolini.

4. Teknik-teknik lain

Variasi dari marsupialisasi adalah Window operation. Seorang klinisi telah mengadakan uji coba menggunakan teknik ini kepada 47 orang penderita dengan kista atau abses Bartolini yaitu dengan membuat inisisi yang sama seperti halnya pada marsupialisasi tetapi bedanya, pada teknik ini insisi dilakukan dengan lebih besar sehingga akan lebih banyak lagi bagian dalam kista yang dikeluarkan. Dinding kista kemudian dijahit ke mukosa vestibulum. Belum pernah dilaporkan adanya kegagalan alat komplikasi dari teknik ini. Tujuan dari teknik ini adalah untuk mencegah terbentuknya kembali kista.

5. Eksisi

Eksisi dapat dilakukan pada kista yang cenderung berulang beberapa kali. Prosedur ini tidak dapat dilakukan ditempat melainkan dikamar operasi karena dapat terjadi perdarahan dari vena-vena sekitarnya. Prosedur ini menggunakan anestesi umum dan dapat menimbulkan hemoragik, hematom, infeksi sekunder dan dispareunia akibat pembentukan jaringan parut.

Eksisi kelenjar Bartolini dilakukan jika tidak ada infeksi aktif. Jika sebelumnya telah dilakukan beberapa tindakan untuk drainase kista atau abses maka kemungkinan ada perlengketan yang dapat mempersulit eksisi dan dapat menimbulkan jaringan parut yang disertai nyeri kronis postoperasi. Beberapa peneliti menyarankan eksisi pada kelenjar Bartolini untuk mencegah adenokarsinoma jika kista atau abses menyerang pada usia diatas 40 tahun, meskipun adenokarsinoma pada kelenjar Bartolini termasuk dalam kasus yang jarang terjadi.

Pada wanita hamil, operasi kista dapat ditunda sampai setelah melahirkan, bertujuan untuk menghindari kemungkian terjadinya perdarahan. Anestesi lokal dapat diberikan secara topikal, beberapa yang menjadi pilihan antara lain lidokain, dioleskan 3 -5 mg/KgBB. Antibiotik yang aman untuk wanita hamil adalah sefriakson. Jika sampai terjadi obstruksi vagina oleh karena abses maka persalinan dianjurkan dilakukan melalui section cesar. Metode yang dapat dilakukan pada:

a. Bartolinitis:

- Sitz Bath.

- Pemberian obat analgetik dan antibiotik.

b. Kista Bartolini:

- Sitz Bath.

- Pemberian obat analgetik.

- Word catheter.

- Marsupialisasi.

- Window operation.

- Eksisi.

c. Abses Bartolini:

- Sitz Bath.

- Pemberian obat analgetik dan antibiotik.

- Insisi dan drainase.

- Word catheter.

- Penggunaan CO2 dan silver nitrate untuk rnencegah terbentuknya sakus dan abses yang rekurens.

KOMPLIKASI

Komplikasi yang dapat terjadi:

1. Shock sepsis selama insisi abses.

2. Abses rekuren atau kronik.

3. Tidak ada penyembuhan.

4. Bekas luka.

PROGNOSIS

Kista Bartolini memberikan respon yang cukup baik terhadap pengobatan dalam beberapa hari. Perbaikan yang sangat memuaskan ditunjukkan hanya 10% pada kejadian abses yang rekuren pada masa yang akan datang.Sangat penting menangani penyebab timbulnya abses seperti Gonorrhea, Chlamydia dan infeksi bakteri lainnya.

Luka post operasi mengalami pemulihan dalam beberapa hari hingga 2 minggu. Hal ini tergantung dan ukuran abses atau kista dan jenis prosedur yang digunakan. Kebanyakan prosedur operasi selain inisisi dan drainase, efektif untuk mencegah infeksi yang rekurens.

PENCEGAHAN

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mencegah timbulnya kista atau abses Bartolini:

1. Dianjurkan untuk tidak melakukan seks bebas karena abses bartolini biasanya disebabkan oleh penyakit menular seksual.

2. Menjaga kebersihan alat genital.

Membersihkan alat genital hendaknya dimulai dari arah depan ke belakang, untuk mencegah terjadinya penyebaran bakteri ke daerah vagina.

3. Jika telah terbentuk kista Bartolini maka Sitz bath dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya abses bartolini.

Topik Terkait:
, , , ,

ARTIKEL TERBARU SETENGAHBAYA.INFO

Resep Sederhana Untuk Memperkuat Gigi

Memiliki gigi yang rapi dan sehat merupakan keinginan dari setiap orang apalagi jika memiliki senyum yang indah. Untuk merawat dan menjaga kesehatan gigi agar menjadi kuat tentu banyak cara yang orang dapat lakukan. Makanan yang kita masukan dalam perut tiap harinya merupakan salah satu faktor yang dapat membuat gigi dan […]


Mengenal Akut Angioedema dan Bahayanya

Mungkin semua orang pernah terjangkit gatal-gatal dan bengkak di bagian beberapa tubuhnya itu merupakan gangguan akut angioedema. Akut Angioedema adalah merupakan suatu kelainan sistem kekebalan yang diturunkan, yang menyebabkan pembengkakan jaringan pada tubuh secara tiba-tiba. Gejala pembekakan atau benjolan sangat mirip dengan urtikaria, hanya saja apabila urtikaria, umumnya dikenal sebagai […]


Waspadai Sinus Non Spesifik Sulit Terdiagnosis

Sinus Non Spesifik kini menjadi masalah kesehatan yang membahayakan suatu spektrum dari kondisi patologi yang berkaitan dengan inflamasi sinus paranasal akibat adanya jamur. Infeksi sinus oleh jamur jarang terdiagnosis karena sering luput dari perhatian. Penyakit ini mempunyai gejala yang mirip dengan sinusitis kronik yang disebabkan oleh bakteri, sehingga sangat sulit […]


Faktor Ketika Kelebihan dan Kekurangan Molibdenum Pada Tubuh

Molybdenum diklasifikasikan sebagai unsur logam dan ditemukan secara luas di alam dalam bakteri pengikat nitrogen. Hal ini penting dalam jumlah yang kecil untuk manusia, hewan dan kesehatan tanaman. Pada manusia dan hewan, berfungsi terutama sebagai kofaktor penting dari enzim dan membantu dalam metabolisme lemak dan karbohidrat dan membuat sel-sel dapat […]


Mengenal Ataxia Telangiectasia atau Sindrom Louis-Bar

Ataxia telangiectasia (AT) adalah penyakit immunodeficiency primer yang mempengaruhi sejumlah organ yang ada dalam tubuh. Penyakit imunodefisiensi adalah salah satu yang menyebabkan sistem kekebalan tubuh untuk memecah, membuat tubuh rentan terhadap penyakit. Ataxia telangiectasia juga dikenal sebagai sindrom Louis-Bar atau sindrom Boder-Sedgwick. Kelainan ini merupakan penyakir yang langka, kelainan genetik […]


Artikel Tentang Euthanasia (Suntik Mati)

Dengan berkembangnya dunia sekarang ini, membuat peradaban manusia tampil gemilang sebagai refleksi dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga membuat persoalan-persoalan norma dan hukum kemasyarakatan dunia dapat bergeser, sesuai dengan kebutuhan dan aspirasi masyarakat yang bersangkutan. Didalam masyarakat modern seperti dibarat, kebutuhan dan aspirasi masyarakat menempati kedudukan yang tinggi, sehingga […]


Manfaat Sabun Asepso untuk Kulit

Bagi orang-orang tua kita tentu tidak terasa asing lagi jika admin menyebut sabun asepso. Sabun yang warna hijau dikenal memiliki banyak kegunaan selain digunakan untuk mencuci juga digunakan untuk mandi dan juga terkenal sebagai sabun anti kuman yang membedakan warna hijaunya sangat pekat dan memiliki wangi khas sekali antiseptic pembunuh […]


Dampak Makan Beras Mentah dan Khasiatnya Bagi Kulit

Dalam menjaga kesehatan tubuh tentunya banyak hal-hal yang menjadi pendukung seperti pola makan, jadwal istirahat, aktivitas pekerjaan, olahraga, stress dan lain-lain. Dari banyaknya faktor yang mempengaruhi kesehatan tersebut, ternyata pola makan merupakan kontribusi yang dominan dan sangat penting untuk diprioritaskan. Pola makan yang baik meliputi frekuensi makan, jenis makanan, jumlah […]


Ciri Ciri Orang Habis Melakukan Hubungan Intim

Bagi pasangan yag sudah melakukan hubungan intim tentu mereka tahu reaksi dari masing-masing pasangannya setelah melakukannya. Namun yang belum pernah melakukannya tentu akan penasaran bagiamana sebetulnya reaksi kebanyakan wanita setelah melakukan hubungan Intim. Sebenarnya wanita mempunyai reaksi yang sangat feminim. Mungkin Anda tidak pernah mengira bahwa setelah anda berhubungan intim, […]


Mengatasi Masalah Kelainan Pada Sendi Temporomandibular

Apakah Anda tahu seputar sendi temporomandibular, sendi temporomandibuler memiliki dua tempat dan masing-masing letaknya berada di setiap sisi wajah, tepat di depan telinga, dimana tulang temporal dari tengkorak berhubungan dengan rahang bawah (mandibula). Ligamen atau jaringan ikat yang berbentuk seperti tali atau pita, sebagai pengubung tulang-tulang atau pengikat alat-alat di […]


Berikan Komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>