Terapi Herpes Genitatis yang Resisten Terhadap Asiklovir

Terapi herpes genitatis yang resisten terhadap asiklovirFoscarnet

Foscarnet merupakan suatu penghambat DNA polimerase virus yang sama strukturnya dengan phosphonoacetic acid. Penelitian in vitro menunjukkan bahwa foscarnet mempunyai aktifitas anti virus yang poten dan mampu mempercepat penyembuhan lesi pada hewan percobaan. Foscarnet dapat diberikan secara IV dengan dosis 40 mg/kgBB dua kali sehari selama 14 hari. Obat ini diberikan apabila tidak terjadi perbaikan lesi setelah terapi asiklovir selama 10 hari. Efek samping berupa gagal ginjal, hipokalsemia dan kejang. Fungsi ginjal harus dimonitor untuk mencegah nefrotoksik yang serius. Sifat toksis tersebut berdampak pada penggunaan preparat ini yang hanya digunakan pada kasus herpes genitalis yang resisten terhadap asiklovir.

Cidofovir

Cidofovir merupakan suatu acyklik nucleoside phosphonate yang cara kerjanya berbeda dengan asiklovir. Cidofovir difosforilasi hanya oleh enzim selular. Sediaan topikal dan IV telah digunakan untuk menyembuhkan lesi HSV yang resisten terhadap asiklovir pada penderita AIDS dan sesudah transplantasi sumsum tulang. Penelitian toksitas menunjukkan pembentukan tumor pada binatang percobaan. Terapi IV dapat menimbulkan toksisitas pada ginjal sehingga lebih banyak digunakan terapi topikal. Terapi ini dapat mempercepat perbaikan lesi dan menurunkan pelepasan virus. Cidofovir hanya merupakan terapi alternatif pada penderita imunokompromais.

Idoxuridin

Idoxuridin hanya digunakan untuk pengobatan topikal dengan konsentrasi 5-40% dan diaplikasikan 4 kali sehari selama 3—5 hari atau setelah penyembuhan sempurna. Infeksi yang lebih berat diterapi dengan konsentrasi 40% yang diaplikasikan secara kontinyu pada kain kasa setiap 24 jam selama 4 hari.

Vidarabin

Vidarabin mempunyai struktur kimia menyerupai struktur kimia purine nucleoside adenosine, bekerja dengan cara menghambat sintesis DNA virus. Vidarabin diberikan secara intravena dengan dosis 10 — 15 mg/kgBB selama minimal 5 hari. Obat ini jarang digunakan secara sistemik karena bersifat toksis terhadap saraf dan efektifitasnya Iebih rendah daripada asiklovir.

Interferon alpha

Interferon alpha mempunyai aktifitas antivirus dengan cara menghambat transkripsi dan translasi protein. Preparat ini juga mengapregulasi ekspresi antigen MHC klas I. Sifat antivirus dilaporkan efektif pada pengobatan herpes zoster dan terhadap human papilloma virus (HPV) pada pengobatan kondiloma akuminata. tetapi tidak efektif pada pengobatan herpes genitalis.

Antivirus lainnya

Beberapa antivirus topikal lainnya dilaporkan tidak efektif pengobatan herpes genitalis seperti: ether, chloroform, povodin  iodine, isoprinosin, vaksin BCG, Lysine, edoxuridine.

Loading...