Referat Kedokteran Infeksi Penyakit Tetanus

Referat Kedokteran Infeksi Penyakit TetanusTetanus penyakit infeksi yang tergolong sangat berbahaya dan berkembang di sekitar sembilan puluh negara namun insidensinya sangat bervariasi dan yang paling parah dalam membunuh manusia adalah tetanus neonatorum (umbilicus), membunuh sekurang-kurangnya 500.000 bayi setiap tahun karena ibu tidak terimunisasi. Tetanus merupakan penyakit infeksi yang diakibatkan toksin kuman Clostridium tetani, yang berpotensi fatal akut bermanifestasi sebagai kejang otot paroksismal, diikuti kekakuan otot pada seluruh badan Kekakuan tonus otot ini selalu tampak pada otot masseter dan otot-otot rangka.

Etlologi
Clostridium tetani adalah kuman berbentuk batang, ramping, berukuran 2-5 x 0,4 – 0,5 milimikron. Kuman ini berspora termasuk golongan Gram positif dan hidupnya anaerob. Spora dewasa mempunyai bagian yang ber bentuk bulat yang letaknya di ujung, penabuh genderang (drum stick). Kuman mengeluarkan toksin yang bersifat neurotoksik. Toksin ini (tetanospasmin) mula-mula akan menyebabkan kejang otot dan saraf perifer setempat. Toksin mi labil pada pemaanasan, pada suhu 650C akan hancur dalam 5 menit. Di samping itu dikenai pula tetanolisin yang bersifat hemolisis, yang perannya kurang berarti dalam proses penyakit.

Epidemiologi
Kuman ini tersebar di tanah terutama tanah garapan dan mudah dijumpai pada tinja manusia dan hewan. Faktor pencetus karena perawatan luka yang tidak baik merupakan faktor pencetus tersering.

Loading...

Patogenesis
Beberapa keadaan yang dapat menyebabkan keadaan anaerob yang disukai untuk tumbuhnya kuman tetanus antara lain karena luka tusuk yang dalam misalnya kena paku atau duri, luka karena kecelakaan baik lalu lintas maupun kacelakaan kerja, luka ringan seperti luka gores dan excoriasi.

Hipotesa bekerjanya toksin :
1. Toksin diabsorbsi pada ujung syaraf motorik dan melalui sumbu silindris menuju cornu anterior CNS
2. Toksin diabsorbsi oleh sistem limfe masuk ke dalam sirkulasi darah arteri kemudian masuk ke dalam CNS

Gejala klinis :
– Masa inkubasi tetanus 2 – 21 hari
– Timbulnya gejala klinis biasanya mendadak yang bisa berupa :
– Spastisitas otot terutama pada leher dan rahang
– Kesukaran membuka mulut
– Kaku kuduk
– Kejang sepanjang ruas tulang belakang
– Bila kejang tonik sedang berlangsung maka pada daerah muka nampak berwajah seperti kera ( Rhesus sardonicus )
– Serangan timbul paroximal dapat dicetuskan oleh rangsangan suara, cahaya, maupun sentuhan tetapi dapat timbul spontan
– Karena kontraksi otot yang kuat dapat terjadi aspirasi dan cyanosis, retensio urine dan bahkan fractura columna vertebrae
– Pada anak terkadang djumpai demam ringan

Pemeriksaan biasanya pada anamnesa biasanya didapatkan riwayat luka, pada pemeriksaan fisik didapatkan kekakuan otot menyeluruh dan kejang, dan laboratorium biasanya dijumpai leukositosis

Prosedur penatalaksanaan tetanus
Sarana
– Oksigen
– Suction aparatus

Penatallaksanaan
1. Penderita diterima di penerimaan awal
2. Penderita dibaringkan di triage untuk diseleksi dan pemeriksaan awal
3. Penderita dibawa ke ruang kartu merah untuk pemeriksaan lebih lanjut
4. Penderita dilakukan pemeriksaan laboratorium
5. Berikan oksigen
6. Dilakukam penghisapan lendir dengan suction
7. Pasang infus RL
8. Penderita di MRS kan

Pada dasarnya, penatalaksaannya tetanus bertujuan untuk :
1. Eliminasi Kuman

Debridement
Untuk meghilangkan suasana anaerob, dengan cara membuang jaringan yang rusak, membuang benda asing, merawat luka / infeksi umbilicus, membersihkan liang telinga / mengobati otitis media

Antibiotika
Penicilline procaine 50.000 – 100.000 IU / kg / hari IM, 1 – 2 kali sehari minimal selama 10 hari.
Antibiotika lain ditambahkan sesuai dengan penyulit yang timbul.

2. Netralisasi Toksin :
Toksin yang dapat dinetralisir adalah toksin yang belum melekat di jaringan.
Dapat diberi TIGH 500 KI (neonatus) – 6000 KI i.m atau ATS 5000 KI – 100.000 KI.

3. Perawatan Suportif :
Perawatan penderita tetanus harus intensif dan rasional.

a. Nutrisi dan Cairan :
– Pemberian cairan IV disesuaikan jumlah dan jenisnya dengan keadaan penderita, seperti sering kejang, hiperpireksia dan sebagainya.
– Beri nutrisi tinggi kalori, bila perlu dengan nutrisi parenteral.
– Bila sonde nasogastric telah dapat dipasang (tanpa memperberat kejang), pemberian makanan per oral hendaknya segera dilaksanakan.

b. Menjaga agar pernapasan tetap efisien :
– Pembersihan saluran napas dari lendir.
– Pemberian zat asam tambahan.
– Bila perlu, lakukan tracheostomi (tetanus berat).

c. kekakuan dan mengatasi kejang :
– Antikonvulsan diberikan secara titrasi, disesuaikan dengan kebutuhan dan respons klinis.
– Pada penderita yang cepat memburuk (serangan kejang makin sering dan makin lama), pemberian antikonvulsan dirubah seperti pada awal terapi, yaitu dimulai lagi dengan pemberian bolus, dilanjutkan dengan dosis rumatan yang lebih tinggi.
– Bila dosis maksimal telah tercapai namun kejang belum teratasi, harus dilakukan pelumpuhan otot secara total dan dibantu dengan pernapasan makanik (ventilator).