Mengatasi Mers dan Mengenali Gejalanya

Mengatasi Mers dan Mengenali GejalanyaSemua orang sudah tahu pastinya dengan virus yang baru-baru ini menggemparkan seluruh orang didunia yaitu virus mers yang pertama kali berasal dari negeri Timur Tengah. Sebetulnya penyakit ini bukanlah penyakit baru pertama kali dilaporkan sudah sejak September 2012 silam. Meski demikian, tak pernah ada kata terlambat untuk mengatasi terjangkitnya virus MERS.

Sesuai nama, Middle East Respiratory Syndrome atau MERS, merupakan penyakit yang berkembang di kawasan Timur Tengah. Penyebabnya adalah inveksi virus yang masih termasuk dalam golongan Korona (MERS-CoV). Satu contoh lain dari golongan virus Korona ini adalah virus penyebab SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) yang sempat mewabah di dunia pada era 2000-an awal. Memang, SARS diketahui lebih berpotensi menulari manusia ketimbang SARS.

Hampir setahun yang lalu, tepatnya 17 Juli 2013 pada pertemuan IHR Emergency Committee, Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa MERS-CoV merupakan situasi serius dan perlu perhatian besar, namun belum terjadi sesuatu yang darurat terhadap kesehatan masyarakat. Sedangkan status Public Health Emergency of International Concern (PHEIC) akan diberikan, jika virus tersebut meluas ke negara-negara lain. Faktanya, sejak dilaporkan mengenai kemunculan virus tersebut pada kisaran September 2012 sampai 1 Agustus 2013, semua kasus masih berhubungan dengan negara-negara di Jazirah Arab, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Loading...

Kelompok usia yang rentan terinfeksi virus ini adalah lansia (berusia di atas 65), anak-anak, ibu hamil, orang-orang dengan penyakit kronis (seperti diabetes mellitus dan penyakit jantung/pembuluh darah), serta mereka yang memiliki sistem kekebalan tubuh rendah.

Mengenai kondisi di dalam negeri, MERS menjadi perhatian utama masyarakat sejak musim haji kemarin. Bahkan, dua orang dari 13 provinsi yang telah melaporkan kasus suspek virus tersebut diketahui tak terselamatkan, meski hingga sekarang belum bisa dipastikan sepenuhnya mengenai kaitan MERS sebagai penyebab utama kematian tersebut. Profesor Luhur Soeroso yang menangani pasien meninggal di Medan menyatakan, “Kita tidak bisa memastikan dia terkena MERS atau tidak, karena keluarga tidak mengizinkan dilakukan swap tetapi berdasarkan gejalanya, mengarah ke sana.

Senada dengan hal tadi, rilis yang dikeluarkan oleh STANMED CENTER – klinik yang bermarkas di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan – mencantumkan pula bahwa gejala-gejala MERS yang sering dijumpai adalah terjadinya gangguan saluran napas akut yang meliputi demam, batuk dan sesak atau dada terasa berat. Gejala-gejala tersebut biasa juga disertai dengan gejala-gejala saluran pencernaan, termasuk diare.

Maka, apabila Anda mendapati gejala-gejala tersebut, dan tentunya dilengkapi pula dengan riwayat bepergian ke negara-negara Timur Tengah dalam kurun 1-14 hari – masa inkubasi MERS-CoV adalah 2-14 hari – atau setidaknya berinteraksi dengan seseorang yang sakit dan diketahui bahwa 14 hari sebelumnya melakukan perjalanan ke sana, maka wajib segera memeriksakan kondisi tersebut ke puskesmas, rumah sakit, maupun unit-unit layanan kesehatan lain.