Gangguan Perkembangan Seks (DSDS)

Gangguan Perkembangan Seks (DSDS)Gangguan perkembangan seksual (DSDS) adalah sekelompok kondisi langka di mana organ reproduksi dan alat kelamin tidak berkembang seperti yang diharapkan. Jika Anda memiliki DSD, Anda akan memiliki campuran karakteristik seksual laki-laki dan perempuan. Karena menurut dr. Ahmad Zulfa Juniarto, Spesialis Andrologi di FK UNDIP/RS Dr. Kariadi, Semarang, dalam beberapa kasus, kromosomnya laki-laki. Tapi, karena terjadi gangguan perkembangan pada testis, membuat organ kelaminnya tidak tumbuh.

Anda mungkin memiliki kromosom seks (kumpulan gen) biasanya terkait dengan menjadi perempuan (kromosom XX) atau laki-laki (kromosom XY), tetapi organ reproduksi Anda dan alat kelamin mungkin lawan jenis, tidak jelas laki-laki atau perempuan (ambigu atau atipikal) , atau campuran keduanya.

Hal ini terjadi karena perbedaan dengan genetik Anda dan / atau bagaimana Anda merespon hormon seks dalam tubuh Anda. Kondisi ini bisa menular pada keluarga yang memiliki gangguan perkembangan seksual (DSDS).

Testis merupakan pabrik hormon testosteron (hormon laki-laki). Kurangnya paparan testosteron menyebabkan pertumbuhan ke arah laki-laki menjadi setengah-setengah, yang mengakibatkan bayi lahir dengan jenis kelamin ambigu.

Ada penderita yang mengalami hipospadia scrotalis, yaitu lubang urine bukan di ujung penis, melainkan di bagian pangkal bawah penis, dekat skrotum. Skrotum (kantong pelir) pun kecil dan bentuknya terbelah, sehinga seperti bibir vagina. Mungkin, inilah yang menyebabkan seseorang lebih dianggap sebagai wanita saat ia lahir. Waktu itu DSD belum banyak dipahami, apalagi di daerah.

DSD dalam porsi ringan hingga berat cukup banyak terjadi, dengan angka kejadian satu di antara 4.500 kelahiran di dunia. Penyebabnya, dari gen atau kromosom yang dibawa oleh orang tuanya atau lingkungan, seperti radiasi, terpapar pestisida, zat kimiawi, atau pemakaian obat-obatan yang tidak diperlukan semasa kehamilan, termasuk obat penguat kandungan tanpa pengawasan dokter.

DSD bisa diterapi lewat terapi hormon untuk membantu memperbesar ukuran penis ataupun melalui operasi. Operasi diperlukan untuk memperbaiki kelainan atau kecacatan yang terjadi. Pertama, memperbaiki penisnya supaya tegak karena ada daging lengket ke penis sehingga bila ereksi, penisnya jadi melengkung ke dalam. Kedua, memindahkan lubang urine dari bawah ke ujung penis. Ketiga, menyatukan skrotum.

Terapi DSD ini bisa dilakukan sejak dini, yaitu pada usia anak 1,5 tahun untuk menghindari efek psikologis di kemudian hari. Cara ini hanya bisa membuat penampilan penis menjadi normal secara fisik. Namun, untuk fungsi seksual, terutama kesuburannya, perlu terapi lanjutan.

Apabila jenis kelamin anak ambigu, maka orang tua harus bersabar dulu dan tidak terburu-buru menetapkan jenis kelaminnya. Berikut ini 5 pemeriksaan yang bisa dijadikan bahan pertimbangan dalam menetapkan jenis kelamin anak:

– Genetis, tipe kromosom apakah XY (pria ) atau XX (wanita)?
– Hormon, apakah cenderung memiliki testosteron (hormon pria) atau progesteron (hormon wanita)?
– Gonad. Anak itu punya testis (laki-laki) atau ovarium (wanita)?
– Organ kelamin dalam. Apakah dia punya kandungan, atau punya prostat?
– Gender assignment dari tes psikologi.
– Pemeriksaan ini bisa dilakukan sejak kelahiran anak, dan biasanya memakan waktu selama satu bulan.