Langkah-langkah Pemeriksaan Gigi

perawatan gigiBerikut ini adalah langkah-langkah yang perlu diperhatikan oleh dokter gigi dalam melakukan pemeriksaan gigi yang telah mengalami trauma.

Prognosis dari trauma yang meliputi gigi dipengaruhi oleh 3 faktor:

1. Tingkat kerusakan atau luas dari kerusakan yang dialami. Apakah kerusakan yang dialami meliputi jaringan lain di sekitar gigi, seperti jaringan lunak maupun jaringan keras seperti tulang rahang.

Loading...

2. Kualitas dan kesegeraan dari perawatan yang dilakukan setelah terjadi trauma.

3. Evaluasi dari penatalaksanaan selama masa penyembuhan.

Pemeriksaan Subyektif
Pemeriksaan terhadap pasien trauma gigi harus dilakukan sesegera mungkin setelah terjadinya trauma. Proses pemeriksaannya hampir sama seperti pemeriksaan pada kasus perawatan endodontik.

Anamnesis diperoleh dari keterangan pasien atau orang lain yang mengetahui secara pasti mengenai kondisi yang dialami oleh pasien, meliputi keluhan utama, riwayat terjadinya trauma, dan medical history.

Pemeriksaan gigi.

Gigi yang mengalami trauma harus diperiksa apakah gigi tersebut mengalami fraktur, kegoyangan, perubahan posisi, cedera pada ligamen periodontal dan tulang alveolar, serta trauma pada jaringan pulpa. Periksa pula adanya kemungkinan keterlibatan gigi yang berada di rahang lawannya.

Fraktur email atau keretakan pada mahkota dapat diperiksa dengan indirect light atau transluminasi atau dengan penggunaan dye. Apabila struktur gigi telah hilang, periksa luasnya kehilangan apakah sampai pada batas email, dentin, atau sudah mencapai jaringan pulpa.

Kegoyangan gigi diperiksa dalam segala arah. Apabila ketika gigi digerakkan gigi sebelahnya ikut bergerak, perlu dicurigai adanya fraktur pada tulang alveolar.

Perubahan posisi gigi yang terjadi dapat berupa intrusi, ekstrusi, lateral, dan avulsi secara keseluruhan. Tanyakan kepada pasien apakah ada kontak prematur ataupun sangkutan oklusal. Apabila ada perubahan oklusi, perlu dicurigai adanya kemungkinan fraktur rahang atau akar gigi ataupun ekstrusi gigi.

Untuk memeriksa adanya cedera pada jaringan periodontal lakukanlah tes perkusi pada gigi. Pada gigi yang mengalami trauma tanpa adanya fraktur atau perubahan posisi pemeriksaan ini cukup penting untuk melihat adanya kerusakan pada neurovascular bundle yang masuk ke dalam gigi melalui apeks. Kerusakan ini akan menimbulkan adanya kemungkinan terjadinya degenerasi pulpa. Kerusakan ini biasanya ditandai dengan tes perkusi yang positif.

Pemeriksaan vitalitas atau respon pulpa terhadap trauma harus diperiksa pada awal kunjungan dan kunjungan-kunjungan kontrol berikutnya, karena adanya kemungkinan kematian pulpa beberapa bulan setelah trauma. Setelah terjadi trauma, sering pulpa memperlihatkan hasil negatif ketika dilakukan tes vitalitas. Namun, setelah pulpa mengalami pemulihan, dia dapat kembali memperlihatkan hasil positif. Hal yang sebaliknya dapat pula terjadi.

Pemeriksaan gigi menyeluruh.

Seperti general check up kesehatan tubuh dari mata, telinga, denyut jantung, tekanan darah, hingga urine dan tinja, pemeriksaan gigi untuk pencegahan penyakit gigi dan mulut akan meneropong kondisi rongga mulut secara menyeluruh, meliputi kondisi gusi, ludah, bau mulut, gigi, termasuk email gigi. Berdasarkan kondisi inilah bisa disusun penanggulangannya.

Kondisi gusi diperiksa untuk mengetahui apakah ada perdarahan atau radang gusi dengan alat yang disebut WHO probe. Gusi di tiap gigi ditekan ringan. Kalau tak sehat, dengan tekanan ringan saja gusi akan berdarah. Kalau terjadi radang gusi, karena terjadi di jaringan penyangga gigi, risiko gigi tanggal mencapai 1 – 6 kali.

Radang gusi bisa terjadi karena masuknya kuman, terutama dari jenis anaerob. Masuknya kuman itu bisa terjadi jika kebersihan kurang terjaga. Gejala radang gusi yang mudah dirasakan adalah saat sikat gigi, gusi berdarah, dan linu saat minum dingin atau asam.

Kelengkapan gigi pun perlu dipantau. Makin sedikit gigi, makin cepat gusi rusak, karena gigi akan bergerak ke tempat kosong. “Patokannya, pada usia 80 (tahun), minimal masih ada 20 gigi yang berfungsi baik,” kata Anton Rahardjo. Jadi, tiap gigi harus dipertahankan keberadaannya.

Kalau ada yang berlubang, ya ditambal. Kalau sudah ada yang ompong, meskipun terletak di bagian dalam yang tak terlihat bila tersenyum, sebaiknya dipasangi gigi palsu. Ini penting, karena gigi selalu mencari kontak baru. Kalau ada lawannya, ia akan berhenti bergerak. Gigi palsu itu bukan sekadar untuk tampil cantik, tapi untuk membantu memperbaiki dan mempertahankan struktur.